Sabtu, 14 Mei 2011

Seputih Salju, Setinggi Bintang (PART 4)

Diposkan oleh nonomiya mizumi di 15.21
yap yap, balik lagi nih..maaf yah ngaret.well, enjoy it girls ! :)

Nathan melirik icha dan tersenyum. Icha terkesima sejenak, dan merasa jika senyuman nathan kali ini berbeda. Icha merasa hangat, nyaman bertolak belakang banget dari tatapan nathan tadi siang. Baru kali ini icha melihat nathan tersenyum seperti itu. Icha merasa ada sedikit rasa nyaman dan hangat yang ia lihat dari sosok seorang nathan.


####

yap, kali ini icha memang benar terkesima sama senyumnya nathan. Namun, ia tak mau menjadi "benar-benar" terkesima, karena menurutnya the orion's hanyalah sebuah komplotan cowok yang bisanya cuma nyari onar dan menang tampang, masalah harta? itu kan harta orang tua mereka bukan harta dari jerih payah mereka sendiri. Dan nathan merupakan salah satu anggota the orion's, jadi asumsi icha barusan berlaku untuknya. Nathan yang semenjak tadi masih tersenyum pada icha, kini kembali melihat ke depan fokus mengendarai mobilnya.

"cha, kok diem aja sih?" tanya nathan tiba-tiba yang memecahkan suasana sunyi itu.

"hah? umm..gpp kok." jawabnya bingung.
*ahelah, rese nih, ngapain sih gue? pake acara diem begini? ntar kalo dia ngira gue salting gimana? aduh, bego bgt gue...* gerutunya dalam hati.

"hahaha, bener gpp? terpesona yah sama senyum gue tadi?" ujar nathan lalu tertawa kecil.

"ih apa sih lo? pede amat, hahahaha..." tukasnya, icha tertawa lepas.

"hahahaha, eh itu pantinya kan?" ujar nathan yang menunjuk ke suatu tempat kecil namun terlihat asri karena banyak tanaman hijau yang diletakkan di pekarangan rumah tersebut.

"iya, kok tau?" tanya icha yang mengernyitkan dahinya dan melirik nathan penasaran.

"hahaha, apa sih yang gue gak tau cha?" jawabnya santai.
*jelas lah gue tau, lo orang yang gak tau kenapa sering lewat di dalam pikiran gue dan gak pernah bisa ilang ! gue pengen bgt bisa kenal lebih deket sama lo cha* gumamnya dalam hati.

"yaudah yuk turun, kayanya udah pada nunggu tuh." lanjutnya.

"iya" jawab icha sambil tersenyum.

Mereka pun turun dari mobil, dan terlihat kerumunan anak kecil yang mulai berlari menghampiri icha lalu memeluk kakak kesayangan mereka itu. icha pun membalas pelukkan mereka dengan erat dan penuh kasih sayang seperti layaknya pelukan seorang kakak pada adik kandung kesayangannya. Nathan yang sedari tadi berdiri tepat di belakang icha memandangi icha dalam-dalam, *hebat,tulus bgt nih cewek sayang sm anak-anak panti. salut gue* seketika untaian kalimat itu muncul dan mendekam di benak nathan yang membuatnya semakin ingin mengenal sosok icha.

"kak icha apa kabaaar? kangen kakak...huaaaaa." ujar salah satu anak panti yang bernama amel. amel adalah anak panti yang paling dekat dengan icha dan paling manja sama icha. ia menangis dan memeluk icha erat-erat.

"loh, kok amel nangis? kenapa deh? ada yang nakal sama amel? siapa, bilang sm kak icha nanti biar kakak smack down." candanya pada amel, yang membuat amel tersenyum kembali. sedangkan nathan hanya tertawa.

"hahaha. kk bisa aja, engga kok kak, cuma kangen aja sama kak icha." jawab amel polos.

"kakak juga kangen kok sama amel, sama kalian semua juga" ujar icha.

"kak, itu siapa? pacar kakak ya?" tanya amel penasaran sambil menunjuk nathan yang berdiri di belakang icha.

seketika icha pun menoleh ke arah nathan dan menatap nathan, wajahnya kini bersemu merah. Nathan hanya tersenyum dan dengan cepat ia menganggukkan kepalanya yang mengartikan "iya".

"hah? bener kak? kk pacarnya kak icha?" tanya amel lagi.

"ih, apaan sih lo tan?" gerutunya pada nathan, wajahnya masih bersemu merah.

"hahahaha..bercanda kok gue" balas nathan yang masih tertawa.

icha terdiam dan menundukkan kepalanya, wajahnya semakin merah..icha bingung sendiri jadinya, entah mengapa ia tidak bisa mengatakan "tidak" atas pertanyaan amel tadi. tapi tidak memungkinkan juga bila ia mengatakan "iya", toh ia sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan nathan, jangankan hubungan, perasaan untuk nathan saja tidak ada.

"kk bercanda kok, kk cuma temennya kak icha aja.nama kk..nathan." lanjutnya, kemudian ia melirik icha dan tersenyum.icha hanya membalas menatap mata nathan dan membalas senyum nathan itu.

"kak, amel udah lama nih gak liat kk main piano. ayo dong kak, main piano lagi" pinta amel manja, sambil menarik ujung baju seragam icha.

"lo bisa main piano cha? kok gue gak tau?" ujar nathan.

"yee kk kemana aja? katanya temennya kak icha, masa gak tau? kak icha jago bgt loh main pianonya, iya kan cha?" puji amel sambil melirik icha.

"hahaha..engga jago kok, biasa aja." tukasnya lugu.

"ayolah kaaaaak, main lagi...ya ya ya?" pinta amel pada icha.

"iya iya, kk main deh" ujar icha menyerah.

"ye ye ye..asik asik, ayok kak nathan." ajak amel yang menarik tangan nathan dan menuntunnya ke ruang tengah.

Ruangan tengah panti ini sangat sederhana, cat temboknya berwarna coklat muda, lantai keramiknya berwarna putih bersih, di dindingnya terdapat beberapa foto anak-anak panti yang di bingkai dengan sangat serasi. Di tengah awang-awang ruangan terdapat lampu berbentuk bunga yang di gabung dengan kipas. Terdapat pula bangku-bangku yang terdapat motif dan ukiran tradisional serasi dengan mejanya. Terdapat satu televisi di sudut ruangan itu. dan di tengahnya berdiri tegak sebuah piano tua namun kondisinya masih bagus. Dihampirinya piano itu oleh icha, lalu dengan perlahan ia duduk di sebuah kursi kecil dan berhadapan dengan piano tua itu. jari lentiknya mulai menyentuh piano tersebut dan melantunkan sebuah lagu.

♫♫♫
Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah mengalami perbedaan
Kita lalui

♫♫♫

seketika ruangan itu sunyi sesaat dan mereka terhanyut dalam lagu yang di lantunkan oleh icha, sangat merdu. Nathan terkejut, kagum, takjub, dan rasanya tak ingin berhenti mendengar icha menyanyi dan bermain piano. sungguh suatu bakat yang mengagumkan* pikir nathan.

♫♫♫
ku kan setia menjagamu
Bersama dirimu dirimu
Sampai nanti akan s’lalu
Bersama dirimu

♫♫♫

Sampai akhirnya selesai, mereka semua meberikan tepuk tangan yang meriah untuk icha.
Nathan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, suatu permainan yang mengagumkan dari seorang gadis polos dan pendiam itu. Seketika nathan melangkahkan kaiknya menuju piano itu lalu duduk di sebelah icha,icha reflek tersentak kaget karena nathan tiba-tiba duduk di sampingnya. Mereka saling pandang dan nathan lagi-lagi tersenyum kecil. icha hanya diam tak tahu harus berbuat apa, ia gugup karena jarak antara ia dengan nathan sangat dekat.

"tan, lo ngapain deh?" tanyanya.

"mau main lah, masa mau makan." jawab nathan sambil tertawa.

"oh yaudah, bilang kek, jadi kan gue bisa minggir." ujar icha yang perlahan beranjak dari kursi kecil piano itu.

"tunggu...mau kemana cha?" tukas nathan yang tiba-tiba menarik pergelangan tangan icha dengan lembut dan menghentikan langkah icha. lagi-lagi icha takjub, suhu badannya panas dingin, ia lebih memilih diam karena takut nantinya ia jadi salah tingkah. Seluruh pasang mata di ruangan itu melihat kepada icha dan nathan secara bergantian.

"kan lo mau main, yaudah gue minggir.." jawab icha lembut.

"sini aja, gue mau main berdua sama lo..gue baru tau kalo ada cewek polos,lugu,pendiem kaya lo bisa main musik dan menghasilkan rangkaian melodi dengan sangat indah." jelas nathan sambil menatap icha dalam-dalam.

"eng..tapi tan..." icha ragu, wajahnya kini merah kembali..

"udah gpp kak, main bareng yaaaah..plis, buat kita..." ujar amel manja.

*icha bimbang, selama ini ia tak pernah bermain piano bersama seorang cowok, kecuali ayahnya..namun, ia melihat mata amel yang terlihat seperti ingin sekali melihat permainan duet icha dan nathan* icha pun setuju.
icha menganggukkan kepalanya yang mengisyaratkan "iya" lalu kembali duduk di kursi kecil itu. Nathan mulai menyentuh satu persatu bagian piano tersebut membentuk suatu rangkaian musik yang indah, icha mengetahui lagunya dan mulai mengikuti nathan.

♫♫♫
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa

♫♫♫

Ruangan itu kini kembali terhanyut dalam alunan musik indah yang dihasilkan oleh permainan duet icha dan nathan. Semua mata hanya tertuju dan terfokus pada satu arah yaitu Nathan,Icha dan piano tua itu.

♫♫♫
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu

♫♫♫

Seselesainya mereka bermain piano, sekali lagi ruangan yang tadinya sunyi itu kini menjadi ramai oleh tepuk tangan dari anak-anak panti. Icha tertawa lepas seketika wajahnya memancarkan rasa bahagia yang luar biasa, Nathan memperhatikan senyuman icha itu dan terkesima sangat sangat terkesima. *CANTIK* Pikirnya.

"keren cha, gak nyangka gue..itu lagu kan susah. kok lo bisa langsung reflek ngikutin gue sih?" tanyanya takjub.

"ah biasa aja kok, itu lagu yang biasa gue mainin sama ayah." jawabnya santai.

"hebat kak, merdu banget !" seru amel dari kerumunan anak panti lainnya yang spontan langsung berlari dan memeluk icha.

icha tertawa lagi dan membalas pelukan amel dengan sangat erat, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Itu berarti ia harus pulang.

"kk harus pulang nih,udah sore" ujar icha.

"yaaaaaah....." jawab anak-anak panti serentak menandakan kekecewaan.

"udah sore soalnya, besok lusa kk kesini lagi kok.. oke?"

"yah yaudah deh kak, janji ya main kesini lagi?" ujar amel

"iya, kk janji.." jawab icha yang mengelus-elus kepala amel.

"yuk cha, gue anterin pulang" tukas nathan.

"kak nathan, nanti main kesini lagi yaaa? janji?" pinta amel yang langsung memeluk nathan.

"iyaaa..." jawabnya sambil memeluk amel, rasanya baru pertama ini ia memeluk seorang anak kecil dan merasakan layaknya seperti seorang kakak. bahagia, rasanya.
Nathan dan Icha berpamitan dan masuk ke mobilnya. lalu mengantar icha pulang.

####
Akhirnya mereka tiba di depan rumah icha. Rumah icha tidak terlalu besar, terdapat halaman yang kecil cukup untuk meletakkan beberapa tanaman, pagarnya berwarna putih, cat tembok rumahnya berwarna krem. Meskipun kecil namun terlihat asri dan nyaman.
Nathan keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk icha.

"makasih ya tan." ujar icha yang kemudian tersenyum manis, dan berhasil membuat nathan terenyuh dalam senyumannya.

"woles aja kali cha, gue yang harusnya makasih baru kali ini gue ke panti asuhan. dan menurut gue itu seru, asik, gue jadi tau semuanya..itu karena lo."

wajah icha lagi-lagi bersemu merah dan menunduk, ia gugup tubuhnya berkeringat dingin, hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?

"hahaha, kok diem gitu sih cha? tersanjung ye gue puji? hahahaha" lanjutnya sambil mengacak-acak rambut icha dengan lembut.

"yee apa sih? biasa aja kok..weee..hahahaha" tukasnya lalu tertawa lepas.
Setelah sesaat mereka tertawa bersama, nathan mengeluarkan handphone miliknya.

"cha, kalo boleh..gue minta nomer lo dong.."

icha tersentak kaget, namun dengan spontan ia memberikan nomornya dengan mudah dan tanpa rasa ragu.

"yaudah ya, gue pulang dulu..makasih loh buat nomernya.." lanjutnya, kemudian ia mengacak-acak rambut icha lagi.

"iiiih..nathaan..rese lo ah.." sentaknya sambil tertawa.

"hahaha..biarin weee..." jawab nathan meledek, sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. ia menyalakan mesin mobilnya.

"daaah ichaaa...." ujarnya.

"byeee..." balas icha tersenyum.

Icha masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamarnya, direbahkannya tubuh mungilnya itu di atas kasur lalu pikirannya menerawang jauh mengingat kembali masa-masa yang baru di alaminya dengan nathan saat di panti tadi. Namun, icha terusik oleh bayangan tugas matematika yang harus di kumpulkannya esok hari. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi, setelah itu ia duduk diam di depan meja belajarnya membuka beberapa buku matematika dan mulai mengerjakan soal-soal itu.Setelah kira-kira 1 jam-an ia mengerjakan soal-soal itu, handphone-nya berdering..

unknown number is calling...
begitulah yang muncul di layar kaca handphone icha.

"siapa sih nih? ganggu aja, gak tau orang lagi ngerjain tugas apa ya?" ujarnya kesal, lalu diambilnya HP itu kemudian ia menjawab telepon itu.

"Halo..?" ujar seseorang dari seberang sana.
Icha seperti mengenal suara itu..tapi apa mungkin?

"haloo? chaaa? helloooooouuuu? woy woy woy..ini gue nathan" sentaknya di telepon.

"hmmph..iya iya gue icha, gue denger kok, kaya di hutan aja sih ngomongnya." protes icha.

"hahaha..sori, abisnya lo gak jawab-jawab sih."

"umm..kenapa tan? kok telpon?" tanya icha lugu sambil memutar-mutar pensil yang sedang dipegangnya.

"eng..gak, cuma mau cek aja kok. udah ya, bye." jawab nathan tergesa-gesa lalu mematikan teleponnya. ia merasa kikuk dan gugup, makanya ia menutup teleponnya.

call end..
begitulah yang tampak dalam layar kaca HP icha.

"dih, aneh amat sih nih orang." ujarnya kesal.

icha termenung sesaat, ia kembali merebahkan tubuh mungilnya dan bersandar pada satu boneka bantal berbentuk sapi. Pikirannya kembali menerawang jauh, ia kembali memikirkan saat-saat dipanti bersama nathan. Hatinya merasa senang mendapat telepon dari nathan namun juga merasa bingung, mengapa nathan menelponnya hanya cuma sebentar? apa ia hanya ingin membuat dirinya percaya diri? ah sudahlah..ia terlalu letih memikirkan dan menebak semua itu. Ia terlelap dan masuk dalam dunia mimpinya.


####
TOK..TOK..TOK..TOK..

"icha..bangun sayang..nanti kamu telat loh" terdengar suara seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kamar icha dan memanggil icha.

"iya mah..icha udah bangun.." jawab icha sambil mengucek matanya .

Dan icha mengambil HP di meja dekat tempat tidurnya. ia bermaksud untuk melihat pukul berapa sekarang, dan ternyata pukul 06.45 ! Icha panik, lalu bergegas beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, Ia keluar dari kamar mandi lalu memakai seragam, dan segera berangkat ke sekolah. Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari sekolah, namun butuh waktu 15 menit untuk sampai disana. Icha terus berlari dan sesekali pandangannya tertuju pada jam di pergelangan tangannya., sampai pada akhirnya ia melihat pak satpam yang sedang ingin menutup gerbang sekolahnya.

"eeehhh...pak..pak...pak..nanti dulu pak, saya mau masuk" ujar icha dengan nafas yang terengah-engah.

"ya ampun neng, udah jam berapa ini?" tukas satpam penjaga sekolah itu.

"iya saya tau pak, tapi kan.." belum selesai icha ngomong, udah dipotong sama pak satpam yang berkumis tebal itu.

"maaf neng, tapi peraturan ya tetap peraturan.kamu harus tunggu diluar setelah 2 jam pelajaran berakhir." Ulas pak satpam itu yang gayanya sudah seperti membacakan undang-undang negara.

"yah ampun paak...baru sekali ini saya telat.." rengek icha pada satpam itu.

"maaf neng, tapi saya gak bisa" satpam itu tetap bersikukuh.

Akirnya icha menyerah dan berdiri di depan pagar, menunggu ada keajaiban yang bisa membuatnya masuk kelas. Tak lama kemudian, terlihat ada sebuah mobil jaguar berwarna silver menuju ke arah icha berdiri. Mobil itu berhenti lalu, pintu mobil itu mulai terbuka, perlahan sosok cowok dari balik pintu mobil itu semakin jelas..VANO ! mobil itu milik vano. vano menghampiri icha dan pak satpam itu.

"pak, bukain pintunya..gue mau masuk.."

"maaf den, tapi sudah peraturan sekolah..saya tidak bisa membukakan pintunya."

"lo mau gue pecat? cepet bukain pintunya !" paksa vano yang menatap satpam itu dengan gerang.

"aaa..anu..den." ujar satpam itu gelisah.
karena tidak tahan dengan sikap vano yang menyebalkan itu, icha pun berdiri di depan satpam itu lalu menghadap vano.

"heh..gue tau ya, lo itu anak dari donatur sekolah..tapi bukan berarti lo bisa seenaknya !" sentak icha sebal, ia menatap vano dalam-dalam dan amarahnya semakin memuncak ketika vano hanya mengabaikan omongannya dan kembali bertatap muka dengan satpam itu.

"HEH, GUE NGOMONG SAMA LO !" ujar icha semakin gerang.

"sori, urusan lo apa ya? mau ngomong? ngebet banget pengen ngomong sama gue lo ya?" jawab vano pede.

"dih, ogah ! amit-amit deh, ih...." tukas icha.

"apa kata lo? amit-amit? dasar cewek kampung !" balas vano kesal.

"heh, cowok sok kaya ! sok berkuasa ! sok ganteng padahal mah engga ! ih.." ujar icha yang bertambah gusar.

Suasana kini ricuh karena perdebatan hebat antara icha dan vano, sang satpam pun tidak berani melerainya. Sampai pada akhirnya guru fisika pun menghampiri mereka karena mendengar kericuhan dari luar. Tanpa basa-basi pak gatot pun memberikan hukuman pada mereka. BERJEMUR DI LAPANGAN SEKOLAH SAMBIL HORMAT BENDERA SELAMA 1 JAM !

"aih..bapak jahat amat deh..jangan 1 jam lah pak, 10 menit aja ya?" pinta icha.

"ah lenjeh banget lo jadi cewek, 1 jam aja gak kuat" ledek vano.
icha hanya cemberut dan berusaha meredam amarahnya, takut kalo hukumannya ditambah lagi sama pak gatot.

"sudah sudah, cepat kalian berdiri di lapangan. dan hormat pada bendera !" tegas pak gatot, yang mebuat icha dan vano spontan berlari menuju lapangan lalu hormat pada bendera.

Mereka berdiri berdampingan, vano berniat usil pada icha. Vano menggeser badannya agar lebih dekat dengan icha. Icha tersentak, lalu menatap vano denga tatapan heran,bingung plus takut.

"ng..ngapain lo deket-deket gue?" tanya icha gugup.

"dih, pede..siapa yang deket-deket lo, gue tuh kepanasan, tempat lo lebih adem." tukas vano.

*aneh banget sih nih cowok, jelas-jelas tempat gue sama tempat dia sama panasnya. the orion's itu gak ada yg beres kali ya? sikapnya aneh semua.* pikir icha. mereka saling pandang sebentar, namun vano cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari icha. jantungnya berdegup kencang. *jantung gue kenapa sih nih? kaya mau lomba lari aja, masa ngeliat dia doang gue jadi kaya gini..ah bego bego..* gumamnya dalam hati.

"udah ah, jangan deket-deket gue lo." ujar vano sambil melangkah menjauh dari icha.

"dih apasih? lo yang jelas-jelas tadi deketin gue, haa..ngefans lo ya? bilang aja kali." canda icha.

"yee..amit-amit deh, masih banyak cewek yg lebih dari lo." tukas vano lagi.

Yap..Kini suasana menjadi sunyi kembali, tak ada perbincangan karena udara di sekitar mereka sangat panas, terik matahari sangat menyengat mereka. Rasanya tak tahan, berlama-lama seperti ini, pikir icha. sampai pada akhirnya bu resya, guru matematika mereka datang menghampiri mereka dan mengizinkan mereka untuk masuk ke kelasnya. saat sampai di kelas, semua mata tertuju pada icha dan vano..vano sih gak kenapa-kenapa, tapi wajah icha agak sedikit pucat. Tak lama kemudian, Bu resya masuk kelas dan menanyakan PR yang diberikannya 3 pekan lalu.

"Ya..silahkan kumpulkan PR kalian ke depan." perintah Bu Resya.

Serentak anak-anak maju ke depan meja guru untuk mengumpulkan tugas mereka, namun icha terlihat sibuk sendiri mengacak-acak tasnya. Rupanya ia mencari buku tugas matematikanya yang baru saja ia kerjakan kemarin malam. Icha berkeringat dingin, lalu ia maju kedepan dan menjelaskan bahwa bukunya tertinggal di ranjangnya ketika ia sudah menyelesaikan tugasnya, icha lupa memasukkannya ke dalam tas. Bu resya tidak mau mendengar alasan apapun. wajah icha pucat pasi, keringat dingin membasahi tubuhnya.

"siapa lagi di antara kalian yang tidak mengerjakan PR saya?" ujar bu Resya gerang.
seisi kelas terdiam dan tak lama kemudian, terlihat sebuah tangan yang terangkat, tangan itu milik vano !

"hmm..kamu sih sudah menjadi langganan, teman-teman sekelompokmu saja mengerjakan, kenapa kamu tidak?" tanya Bu Resya sambil menghampiri vano.

dengan santai dan tak berdosa, Vano menjawab, "males bu, mending nongkrong bareng temen". Semua murid terdiam, bagi mereka hal seperti itu sudah menjadi pemandangan yg tak asing lagi. Vano memang seperti itu, selalu menyepelekan pelajaran. Sementara, Icha yang tertegun diam masih berdiri kaku di depan meja guru, wajahnya masih pucat bahkan kini semakin pucat.

Amarah Bu Resya tak terbendung lagi, akhirnya Bu Resya memerintahkan Icha dan Vano untuk mengelilingi lapangan basket sebanyak 7 kali. Murid-murid pun protes, karena masalahnya Icha juga ikut terseret hukuman.

"Bu, jangan lah bu, kasian icha..mukanya udah pucet tuh bu.nanti kalo pingsan gimana?" ujar tiara khawatir.

"saya gak mau tau, dia itu sudah tidak mengerjakan tugas saya, cepat sana lari !" tegas Bu resya galak.

Akhirnya mereka berdua, berjalan ke tengah lapangan dan mulai berlari mengelilingi lapangan, bukannya serius berlari..mereka malah saling ledek. yang membuat kericuhan kembali terjadi.

"ah payah lo ! kejar gue sini kalo bisa, yang selesai 7 putaran duluan ditraktir yang kalah ! gimana?" ledek vano sambil berlari di samping icha.

"yee..rese lo ! gak tertarik gue sama taruhan lo !" tukas icha kesal sambil berlari, wajahnya masih pucat, ia merasa pusing sebenarnya. tapi ia berusaha menutupinya.

"alah..bilang aja takut lo..iya kan? takut kan? takut kalah sama gue?" ledek vano yang masih berlari di samping icha.

"engga takut gue sama lo, tapi gue gak tertarik sama taruhan lo buang-buang waktu gue aja." balas icha. kini pandangannya menjadi semakin redup. sesaat icha berhenti berlari dan memegangi kepalanya. Vano yang masih berlari menghampirinya dan meledeknya,tapi ia sadar jika ada yg berbeda dari wajah cewek mungil ini. wajah icha menjadi lebih putih dari biasanya lebih tepatnya pucat pasi.

"heh, kenapa lo? muka lo putih pucet gitu udah kaya mayat hidup jalan-jalan. kalo gak kuat berenti aja sono." ledek Vano.
*nih anak kenapa sih? jadi takut gue, takut dia kenapa-kenapa..* sesaat ia berpikir seperti itu, *ah apaan sih, bodo amat deh..lagian dia siapa gue coba?* terjadi peperangan di batin vano. tapi yang jelas, ia sebenarnya khawatir.

"ah becanda lo, gue kuat kok..udah sono, jangan ngalangin gue..*PLAK" ujar icha sambil memukul pipi vano dengan sangat pelan.

"heee..kampret lo yaa..berani-beraninya mukul pipi gue ! awas lo gue kejar !" ujar vano, ia pun lari secepat kilat berusaha mengejar icha yang sedang tertawa geli karena ekspresi vano tadi.

"woo..payah lo ! masa kalah lari sama cewek kaya gue?" ledek icha, yang membuat vano makin gusar dan berusaha mempercepat larinya.

"hah ! rese lo..liat gua nih..cepet larinya..motor rossi aja kalah sama gue." Teriak vano yang kemudian tertawa kecil dan bertambah semangat mengejar icha.

Kini lari mengelilingi lapangan basket sebanyak 7 kali itu bukan menjadi hukuman lagi malah lebih mirip adegan di film bollywood yang kejar-kejaran. Vano berhasil melewati icha. sedangkan icha tertinggal di belakang.

"yeyeyeye..gue menang cha..traktir gue lo !" teriak vano tanpa melihat ke tempat icha berdiri jauh di belakangnya.

icha hanya terdiam di tempatnya, merasa dunia seakan berputar, dan matanya berkunang-kunang, pandangannya makin lama makin kabur..dan *BRUUUUK !
Icha tiba-tiba jatuh tergeletak di tengah lapangan. Vano yang melihat hal itu terentak kaget dan langsung lari menghampiri icha.

"cha..bangun cha, ah jangan bercanda lo.." ujar vano khawatir.

icha masih tergeletak lemas, badannya dingin..sedingin es. wajahnya pucat pasi, vano semakin panik. diangkatnya tubuh icha dan diletakannya kepangkuannya.

"cha..kalo lo mau gue peluk, bukan gini caranya..gak lucu lo, pas gue menang lo pura-pura sakit biar gak traktir gue." ujar vano berusaha menutupi kegelisahannya.

"saa..sak..sakiittt..." Icha merintih kesakitan, ia memegangi perutnya.

"apanya cha yang sakit? chaa..?" vano semakin gugup, ia berkeringat dingin..takut, khawatir, gelisah..

icha terdiam dan kondisinya semakin lemah, vano segera mengangkat tubuh mungil icha dan berlari menuju ruang UKS. sesampainya disana, ia terlihat sangat panik.

"suster...suster..." teriak vano.

"ada apa vano? kok kamu panik begitu? icha kenapa?" tanya suster itu tenang,

"ini sus, icha..icha..ichaaa.." ujar vano terbata-bata, ia panik sekali sehingga sulit berkata apa yg terjadi sebenarnya.

"icha pingsan? kamu tenang dulu vano, sekarang rebahkan icha di ranjang itu, biar saya yang menanganinya" ujar suster itu.

Vano merebahkan tubuh icha di ranjang UKS, suster itu memeriksa icha dan menggelengkan kepalanya. Vano yang melihatnya semakin panik.

"dia memiliki maag yang cukup parah. kamu lebih baik ke kantin membelikan makanan untuknya." perintah suster itu.

"iya suster.." jawab vano.

Tak lama kemudian, vano datang kembali dengan membawa sebungkus roti cokelat dan sebotol air mineral. vano duduk di samping tempat tidur dimana icha berada. ia memperhatikan wajah icha. *manis* pikirnya. ia ingin mengelus rambutnya, dan menggenggam tangannya. tapi ia ragu. seharian ia menunggu icha sadar, sampai bel istirahat berbunyi pun icha masih tak sadarkan diri. Berita bahwa icha pingsan sudah menyebar luas, Nathan bermaksud mengjenguk icha di UKS. Sementara Vano masih khawatir dengan keadaan icha, ia nekat mengelus rambut icha dengan lembut..bahkan sangat lembut. Tanpa disadari nathan melihatnya dari sisi jendela yang tidak tertutup oleh gorden. Hati Nathan panas, tidak suka melihat vano sedekat itu dengan icha, hatinya gelisah, ia ingin berada dekat dengan icha, tapi disana sudah ada vano. apa yang harus ia lakukan? apa yang terjadi pada hatinya? mengapa ia merasakan hal yang sedemikian rupa? perasaan apa ini?

Part 4 done.
kritik dan saran pliss..
mohon maaf kalau ngaret.. saya keteteran soalnya... >,<
ditunggu yah Part 5-nya.
ada request buat part 5? :)

0 komentar:

Poskan Komentar

Sabtu, 14 Mei 2011

Seputih Salju, Setinggi Bintang (PART 4)

Diposkan oleh nonomiya mizumi di 15.21
yap yap, balik lagi nih..maaf yah ngaret.well, enjoy it girls ! :)

Nathan melirik icha dan tersenyum. Icha terkesima sejenak, dan merasa jika senyuman nathan kali ini berbeda. Icha merasa hangat, nyaman bertolak belakang banget dari tatapan nathan tadi siang. Baru kali ini icha melihat nathan tersenyum seperti itu. Icha merasa ada sedikit rasa nyaman dan hangat yang ia lihat dari sosok seorang nathan.


####

yap, kali ini icha memang benar terkesima sama senyumnya nathan. Namun, ia tak mau menjadi "benar-benar" terkesima, karena menurutnya the orion's hanyalah sebuah komplotan cowok yang bisanya cuma nyari onar dan menang tampang, masalah harta? itu kan harta orang tua mereka bukan harta dari jerih payah mereka sendiri. Dan nathan merupakan salah satu anggota the orion's, jadi asumsi icha barusan berlaku untuknya. Nathan yang semenjak tadi masih tersenyum pada icha, kini kembali melihat ke depan fokus mengendarai mobilnya.

"cha, kok diem aja sih?" tanya nathan tiba-tiba yang memecahkan suasana sunyi itu.

"hah? umm..gpp kok." jawabnya bingung.
*ahelah, rese nih, ngapain sih gue? pake acara diem begini? ntar kalo dia ngira gue salting gimana? aduh, bego bgt gue...* gerutunya dalam hati.

"hahaha, bener gpp? terpesona yah sama senyum gue tadi?" ujar nathan lalu tertawa kecil.

"ih apa sih lo? pede amat, hahahaha..." tukasnya, icha tertawa lepas.

"hahahaha, eh itu pantinya kan?" ujar nathan yang menunjuk ke suatu tempat kecil namun terlihat asri karena banyak tanaman hijau yang diletakkan di pekarangan rumah tersebut.

"iya, kok tau?" tanya icha yang mengernyitkan dahinya dan melirik nathan penasaran.

"hahaha, apa sih yang gue gak tau cha?" jawabnya santai.
*jelas lah gue tau, lo orang yang gak tau kenapa sering lewat di dalam pikiran gue dan gak pernah bisa ilang ! gue pengen bgt bisa kenal lebih deket sama lo cha* gumamnya dalam hati.

"yaudah yuk turun, kayanya udah pada nunggu tuh." lanjutnya.

"iya" jawab icha sambil tersenyum.

Mereka pun turun dari mobil, dan terlihat kerumunan anak kecil yang mulai berlari menghampiri icha lalu memeluk kakak kesayangan mereka itu. icha pun membalas pelukkan mereka dengan erat dan penuh kasih sayang seperti layaknya pelukan seorang kakak pada adik kandung kesayangannya. Nathan yang sedari tadi berdiri tepat di belakang icha memandangi icha dalam-dalam, *hebat,tulus bgt nih cewek sayang sm anak-anak panti. salut gue* seketika untaian kalimat itu muncul dan mendekam di benak nathan yang membuatnya semakin ingin mengenal sosok icha.

"kak icha apa kabaaar? kangen kakak...huaaaaa." ujar salah satu anak panti yang bernama amel. amel adalah anak panti yang paling dekat dengan icha dan paling manja sama icha. ia menangis dan memeluk icha erat-erat.

"loh, kok amel nangis? kenapa deh? ada yang nakal sama amel? siapa, bilang sm kak icha nanti biar kakak smack down." candanya pada amel, yang membuat amel tersenyum kembali. sedangkan nathan hanya tertawa.

"hahaha. kk bisa aja, engga kok kak, cuma kangen aja sama kak icha." jawab amel polos.

"kakak juga kangen kok sama amel, sama kalian semua juga" ujar icha.

"kak, itu siapa? pacar kakak ya?" tanya amel penasaran sambil menunjuk nathan yang berdiri di belakang icha.

seketika icha pun menoleh ke arah nathan dan menatap nathan, wajahnya kini bersemu merah. Nathan hanya tersenyum dan dengan cepat ia menganggukkan kepalanya yang mengartikan "iya".

"hah? bener kak? kk pacarnya kak icha?" tanya amel lagi.

"ih, apaan sih lo tan?" gerutunya pada nathan, wajahnya masih bersemu merah.

"hahahaha..bercanda kok gue" balas nathan yang masih tertawa.

icha terdiam dan menundukkan kepalanya, wajahnya semakin merah..icha bingung sendiri jadinya, entah mengapa ia tidak bisa mengatakan "tidak" atas pertanyaan amel tadi. tapi tidak memungkinkan juga bila ia mengatakan "iya", toh ia sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan nathan, jangankan hubungan, perasaan untuk nathan saja tidak ada.

"kk bercanda kok, kk cuma temennya kak icha aja.nama kk..nathan." lanjutnya, kemudian ia melirik icha dan tersenyum.icha hanya membalas menatap mata nathan dan membalas senyum nathan itu.

"kak, amel udah lama nih gak liat kk main piano. ayo dong kak, main piano lagi" pinta amel manja, sambil menarik ujung baju seragam icha.

"lo bisa main piano cha? kok gue gak tau?" ujar nathan.

"yee kk kemana aja? katanya temennya kak icha, masa gak tau? kak icha jago bgt loh main pianonya, iya kan cha?" puji amel sambil melirik icha.

"hahaha..engga jago kok, biasa aja." tukasnya lugu.

"ayolah kaaaaak, main lagi...ya ya ya?" pinta amel pada icha.

"iya iya, kk main deh" ujar icha menyerah.

"ye ye ye..asik asik, ayok kak nathan." ajak amel yang menarik tangan nathan dan menuntunnya ke ruang tengah.

Ruangan tengah panti ini sangat sederhana, cat temboknya berwarna coklat muda, lantai keramiknya berwarna putih bersih, di dindingnya terdapat beberapa foto anak-anak panti yang di bingkai dengan sangat serasi. Di tengah awang-awang ruangan terdapat lampu berbentuk bunga yang di gabung dengan kipas. Terdapat pula bangku-bangku yang terdapat motif dan ukiran tradisional serasi dengan mejanya. Terdapat satu televisi di sudut ruangan itu. dan di tengahnya berdiri tegak sebuah piano tua namun kondisinya masih bagus. Dihampirinya piano itu oleh icha, lalu dengan perlahan ia duduk di sebuah kursi kecil dan berhadapan dengan piano tua itu. jari lentiknya mulai menyentuh piano tersebut dan melantunkan sebuah lagu.

♫♫♫
Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah mengalami perbedaan
Kita lalui

♫♫♫

seketika ruangan itu sunyi sesaat dan mereka terhanyut dalam lagu yang di lantunkan oleh icha, sangat merdu. Nathan terkejut, kagum, takjub, dan rasanya tak ingin berhenti mendengar icha menyanyi dan bermain piano. sungguh suatu bakat yang mengagumkan* pikir nathan.

♫♫♫
ku kan setia menjagamu
Bersama dirimu dirimu
Sampai nanti akan s’lalu
Bersama dirimu

♫♫♫

Sampai akhirnya selesai, mereka semua meberikan tepuk tangan yang meriah untuk icha.
Nathan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, suatu permainan yang mengagumkan dari seorang gadis polos dan pendiam itu. Seketika nathan melangkahkan kaiknya menuju piano itu lalu duduk di sebelah icha,icha reflek tersentak kaget karena nathan tiba-tiba duduk di sampingnya. Mereka saling pandang dan nathan lagi-lagi tersenyum kecil. icha hanya diam tak tahu harus berbuat apa, ia gugup karena jarak antara ia dengan nathan sangat dekat.

"tan, lo ngapain deh?" tanyanya.

"mau main lah, masa mau makan." jawab nathan sambil tertawa.

"oh yaudah, bilang kek, jadi kan gue bisa minggir." ujar icha yang perlahan beranjak dari kursi kecil piano itu.

"tunggu...mau kemana cha?" tukas nathan yang tiba-tiba menarik pergelangan tangan icha dengan lembut dan menghentikan langkah icha. lagi-lagi icha takjub, suhu badannya panas dingin, ia lebih memilih diam karena takut nantinya ia jadi salah tingkah. Seluruh pasang mata di ruangan itu melihat kepada icha dan nathan secara bergantian.

"kan lo mau main, yaudah gue minggir.." jawab icha lembut.

"sini aja, gue mau main berdua sama lo..gue baru tau kalo ada cewek polos,lugu,pendiem kaya lo bisa main musik dan menghasilkan rangkaian melodi dengan sangat indah." jelas nathan sambil menatap icha dalam-dalam.

"eng..tapi tan..." icha ragu, wajahnya kini merah kembali..

"udah gpp kak, main bareng yaaaah..plis, buat kita..." ujar amel manja.

*icha bimbang, selama ini ia tak pernah bermain piano bersama seorang cowok, kecuali ayahnya..namun, ia melihat mata amel yang terlihat seperti ingin sekali melihat permainan duet icha dan nathan* icha pun setuju.
icha menganggukkan kepalanya yang mengisyaratkan "iya" lalu kembali duduk di kursi kecil itu. Nathan mulai menyentuh satu persatu bagian piano tersebut membentuk suatu rangkaian musik yang indah, icha mengetahui lagunya dan mulai mengikuti nathan.

♫♫♫
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa

♫♫♫

Ruangan itu kini kembali terhanyut dalam alunan musik indah yang dihasilkan oleh permainan duet icha dan nathan. Semua mata hanya tertuju dan terfokus pada satu arah yaitu Nathan,Icha dan piano tua itu.

♫♫♫
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu

♫♫♫

Seselesainya mereka bermain piano, sekali lagi ruangan yang tadinya sunyi itu kini menjadi ramai oleh tepuk tangan dari anak-anak panti. Icha tertawa lepas seketika wajahnya memancarkan rasa bahagia yang luar biasa, Nathan memperhatikan senyuman icha itu dan terkesima sangat sangat terkesima. *CANTIK* Pikirnya.

"keren cha, gak nyangka gue..itu lagu kan susah. kok lo bisa langsung reflek ngikutin gue sih?" tanyanya takjub.

"ah biasa aja kok, itu lagu yang biasa gue mainin sama ayah." jawabnya santai.

"hebat kak, merdu banget !" seru amel dari kerumunan anak panti lainnya yang spontan langsung berlari dan memeluk icha.

icha tertawa lagi dan membalas pelukan amel dengan sangat erat, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Itu berarti ia harus pulang.

"kk harus pulang nih,udah sore" ujar icha.

"yaaaaaah....." jawab anak-anak panti serentak menandakan kekecewaan.

"udah sore soalnya, besok lusa kk kesini lagi kok.. oke?"

"yah yaudah deh kak, janji ya main kesini lagi?" ujar amel

"iya, kk janji.." jawab icha yang mengelus-elus kepala amel.

"yuk cha, gue anterin pulang" tukas nathan.

"kak nathan, nanti main kesini lagi yaaa? janji?" pinta amel yang langsung memeluk nathan.

"iyaaa..." jawabnya sambil memeluk amel, rasanya baru pertama ini ia memeluk seorang anak kecil dan merasakan layaknya seperti seorang kakak. bahagia, rasanya.
Nathan dan Icha berpamitan dan masuk ke mobilnya. lalu mengantar icha pulang.

####
Akhirnya mereka tiba di depan rumah icha. Rumah icha tidak terlalu besar, terdapat halaman yang kecil cukup untuk meletakkan beberapa tanaman, pagarnya berwarna putih, cat tembok rumahnya berwarna krem. Meskipun kecil namun terlihat asri dan nyaman.
Nathan keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk icha.

"makasih ya tan." ujar icha yang kemudian tersenyum manis, dan berhasil membuat nathan terenyuh dalam senyumannya.

"woles aja kali cha, gue yang harusnya makasih baru kali ini gue ke panti asuhan. dan menurut gue itu seru, asik, gue jadi tau semuanya..itu karena lo."

wajah icha lagi-lagi bersemu merah dan menunduk, ia gugup tubuhnya berkeringat dingin, hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?

"hahaha, kok diem gitu sih cha? tersanjung ye gue puji? hahahaha" lanjutnya sambil mengacak-acak rambut icha dengan lembut.

"yee apa sih? biasa aja kok..weee..hahahaha" tukasnya lalu tertawa lepas.
Setelah sesaat mereka tertawa bersama, nathan mengeluarkan handphone miliknya.

"cha, kalo boleh..gue minta nomer lo dong.."

icha tersentak kaget, namun dengan spontan ia memberikan nomornya dengan mudah dan tanpa rasa ragu.

"yaudah ya, gue pulang dulu..makasih loh buat nomernya.." lanjutnya, kemudian ia mengacak-acak rambut icha lagi.

"iiiih..nathaan..rese lo ah.." sentaknya sambil tertawa.

"hahaha..biarin weee..." jawab nathan meledek, sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. ia menyalakan mesin mobilnya.

"daaah ichaaa...." ujarnya.

"byeee..." balas icha tersenyum.

Icha masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamarnya, direbahkannya tubuh mungilnya itu di atas kasur lalu pikirannya menerawang jauh mengingat kembali masa-masa yang baru di alaminya dengan nathan saat di panti tadi. Namun, icha terusik oleh bayangan tugas matematika yang harus di kumpulkannya esok hari. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi, setelah itu ia duduk diam di depan meja belajarnya membuka beberapa buku matematika dan mulai mengerjakan soal-soal itu.Setelah kira-kira 1 jam-an ia mengerjakan soal-soal itu, handphone-nya berdering..

unknown number is calling...
begitulah yang muncul di layar kaca handphone icha.

"siapa sih nih? ganggu aja, gak tau orang lagi ngerjain tugas apa ya?" ujarnya kesal, lalu diambilnya HP itu kemudian ia menjawab telepon itu.

"Halo..?" ujar seseorang dari seberang sana.
Icha seperti mengenal suara itu..tapi apa mungkin?

"haloo? chaaa? helloooooouuuu? woy woy woy..ini gue nathan" sentaknya di telepon.

"hmmph..iya iya gue icha, gue denger kok, kaya di hutan aja sih ngomongnya." protes icha.

"hahaha..sori, abisnya lo gak jawab-jawab sih."

"umm..kenapa tan? kok telpon?" tanya icha lugu sambil memutar-mutar pensil yang sedang dipegangnya.

"eng..gak, cuma mau cek aja kok. udah ya, bye." jawab nathan tergesa-gesa lalu mematikan teleponnya. ia merasa kikuk dan gugup, makanya ia menutup teleponnya.

call end..
begitulah yang tampak dalam layar kaca HP icha.

"dih, aneh amat sih nih orang." ujarnya kesal.

icha termenung sesaat, ia kembali merebahkan tubuh mungilnya dan bersandar pada satu boneka bantal berbentuk sapi. Pikirannya kembali menerawang jauh, ia kembali memikirkan saat-saat dipanti bersama nathan. Hatinya merasa senang mendapat telepon dari nathan namun juga merasa bingung, mengapa nathan menelponnya hanya cuma sebentar? apa ia hanya ingin membuat dirinya percaya diri? ah sudahlah..ia terlalu letih memikirkan dan menebak semua itu. Ia terlelap dan masuk dalam dunia mimpinya.


####
TOK..TOK..TOK..TOK..

"icha..bangun sayang..nanti kamu telat loh" terdengar suara seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kamar icha dan memanggil icha.

"iya mah..icha udah bangun.." jawab icha sambil mengucek matanya .

Dan icha mengambil HP di meja dekat tempat tidurnya. ia bermaksud untuk melihat pukul berapa sekarang, dan ternyata pukul 06.45 ! Icha panik, lalu bergegas beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, Ia keluar dari kamar mandi lalu memakai seragam, dan segera berangkat ke sekolah. Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari sekolah, namun butuh waktu 15 menit untuk sampai disana. Icha terus berlari dan sesekali pandangannya tertuju pada jam di pergelangan tangannya., sampai pada akhirnya ia melihat pak satpam yang sedang ingin menutup gerbang sekolahnya.

"eeehhh...pak..pak...pak..nanti dulu pak, saya mau masuk" ujar icha dengan nafas yang terengah-engah.

"ya ampun neng, udah jam berapa ini?" tukas satpam penjaga sekolah itu.

"iya saya tau pak, tapi kan.." belum selesai icha ngomong, udah dipotong sama pak satpam yang berkumis tebal itu.

"maaf neng, tapi peraturan ya tetap peraturan.kamu harus tunggu diluar setelah 2 jam pelajaran berakhir." Ulas pak satpam itu yang gayanya sudah seperti membacakan undang-undang negara.

"yah ampun paak...baru sekali ini saya telat.." rengek icha pada satpam itu.

"maaf neng, tapi saya gak bisa" satpam itu tetap bersikukuh.

Akirnya icha menyerah dan berdiri di depan pagar, menunggu ada keajaiban yang bisa membuatnya masuk kelas. Tak lama kemudian, terlihat ada sebuah mobil jaguar berwarna silver menuju ke arah icha berdiri. Mobil itu berhenti lalu, pintu mobil itu mulai terbuka, perlahan sosok cowok dari balik pintu mobil itu semakin jelas..VANO ! mobil itu milik vano. vano menghampiri icha dan pak satpam itu.

"pak, bukain pintunya..gue mau masuk.."

"maaf den, tapi sudah peraturan sekolah..saya tidak bisa membukakan pintunya."

"lo mau gue pecat? cepet bukain pintunya !" paksa vano yang menatap satpam itu dengan gerang.

"aaa..anu..den." ujar satpam itu gelisah.
karena tidak tahan dengan sikap vano yang menyebalkan itu, icha pun berdiri di depan satpam itu lalu menghadap vano.

"heh..gue tau ya, lo itu anak dari donatur sekolah..tapi bukan berarti lo bisa seenaknya !" sentak icha sebal, ia menatap vano dalam-dalam dan amarahnya semakin memuncak ketika vano hanya mengabaikan omongannya dan kembali bertatap muka dengan satpam itu.

"HEH, GUE NGOMONG SAMA LO !" ujar icha semakin gerang.

"sori, urusan lo apa ya? mau ngomong? ngebet banget pengen ngomong sama gue lo ya?" jawab vano pede.

"dih, ogah ! amit-amit deh, ih...." tukas icha.

"apa kata lo? amit-amit? dasar cewek kampung !" balas vano kesal.

"heh, cowok sok kaya ! sok berkuasa ! sok ganteng padahal mah engga ! ih.." ujar icha yang bertambah gusar.

Suasana kini ricuh karena perdebatan hebat antara icha dan vano, sang satpam pun tidak berani melerainya. Sampai pada akhirnya guru fisika pun menghampiri mereka karena mendengar kericuhan dari luar. Tanpa basa-basi pak gatot pun memberikan hukuman pada mereka. BERJEMUR DI LAPANGAN SEKOLAH SAMBIL HORMAT BENDERA SELAMA 1 JAM !

"aih..bapak jahat amat deh..jangan 1 jam lah pak, 10 menit aja ya?" pinta icha.

"ah lenjeh banget lo jadi cewek, 1 jam aja gak kuat" ledek vano.
icha hanya cemberut dan berusaha meredam amarahnya, takut kalo hukumannya ditambah lagi sama pak gatot.

"sudah sudah, cepat kalian berdiri di lapangan. dan hormat pada bendera !" tegas pak gatot, yang mebuat icha dan vano spontan berlari menuju lapangan lalu hormat pada bendera.

Mereka berdiri berdampingan, vano berniat usil pada icha. Vano menggeser badannya agar lebih dekat dengan icha. Icha tersentak, lalu menatap vano denga tatapan heran,bingung plus takut.

"ng..ngapain lo deket-deket gue?" tanya icha gugup.

"dih, pede..siapa yang deket-deket lo, gue tuh kepanasan, tempat lo lebih adem." tukas vano.

*aneh banget sih nih cowok, jelas-jelas tempat gue sama tempat dia sama panasnya. the orion's itu gak ada yg beres kali ya? sikapnya aneh semua.* pikir icha. mereka saling pandang sebentar, namun vano cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari icha. jantungnya berdegup kencang. *jantung gue kenapa sih nih? kaya mau lomba lari aja, masa ngeliat dia doang gue jadi kaya gini..ah bego bego..* gumamnya dalam hati.

"udah ah, jangan deket-deket gue lo." ujar vano sambil melangkah menjauh dari icha.

"dih apasih? lo yang jelas-jelas tadi deketin gue, haa..ngefans lo ya? bilang aja kali." canda icha.

"yee..amit-amit deh, masih banyak cewek yg lebih dari lo." tukas vano lagi.

Yap..Kini suasana menjadi sunyi kembali, tak ada perbincangan karena udara di sekitar mereka sangat panas, terik matahari sangat menyengat mereka. Rasanya tak tahan, berlama-lama seperti ini, pikir icha. sampai pada akhirnya bu resya, guru matematika mereka datang menghampiri mereka dan mengizinkan mereka untuk masuk ke kelasnya. saat sampai di kelas, semua mata tertuju pada icha dan vano..vano sih gak kenapa-kenapa, tapi wajah icha agak sedikit pucat. Tak lama kemudian, Bu resya masuk kelas dan menanyakan PR yang diberikannya 3 pekan lalu.

"Ya..silahkan kumpulkan PR kalian ke depan." perintah Bu Resya.

Serentak anak-anak maju ke depan meja guru untuk mengumpulkan tugas mereka, namun icha terlihat sibuk sendiri mengacak-acak tasnya. Rupanya ia mencari buku tugas matematikanya yang baru saja ia kerjakan kemarin malam. Icha berkeringat dingin, lalu ia maju kedepan dan menjelaskan bahwa bukunya tertinggal di ranjangnya ketika ia sudah menyelesaikan tugasnya, icha lupa memasukkannya ke dalam tas. Bu resya tidak mau mendengar alasan apapun. wajah icha pucat pasi, keringat dingin membasahi tubuhnya.

"siapa lagi di antara kalian yang tidak mengerjakan PR saya?" ujar bu Resya gerang.
seisi kelas terdiam dan tak lama kemudian, terlihat sebuah tangan yang terangkat, tangan itu milik vano !

"hmm..kamu sih sudah menjadi langganan, teman-teman sekelompokmu saja mengerjakan, kenapa kamu tidak?" tanya Bu Resya sambil menghampiri vano.

dengan santai dan tak berdosa, Vano menjawab, "males bu, mending nongkrong bareng temen". Semua murid terdiam, bagi mereka hal seperti itu sudah menjadi pemandangan yg tak asing lagi. Vano memang seperti itu, selalu menyepelekan pelajaran. Sementara, Icha yang tertegun diam masih berdiri kaku di depan meja guru, wajahnya masih pucat bahkan kini semakin pucat.

Amarah Bu Resya tak terbendung lagi, akhirnya Bu Resya memerintahkan Icha dan Vano untuk mengelilingi lapangan basket sebanyak 7 kali. Murid-murid pun protes, karena masalahnya Icha juga ikut terseret hukuman.

"Bu, jangan lah bu, kasian icha..mukanya udah pucet tuh bu.nanti kalo pingsan gimana?" ujar tiara khawatir.

"saya gak mau tau, dia itu sudah tidak mengerjakan tugas saya, cepat sana lari !" tegas Bu resya galak.

Akhirnya mereka berdua, berjalan ke tengah lapangan dan mulai berlari mengelilingi lapangan, bukannya serius berlari..mereka malah saling ledek. yang membuat kericuhan kembali terjadi.

"ah payah lo ! kejar gue sini kalo bisa, yang selesai 7 putaran duluan ditraktir yang kalah ! gimana?" ledek vano sambil berlari di samping icha.

"yee..rese lo ! gak tertarik gue sama taruhan lo !" tukas icha kesal sambil berlari, wajahnya masih pucat, ia merasa pusing sebenarnya. tapi ia berusaha menutupinya.

"alah..bilang aja takut lo..iya kan? takut kan? takut kalah sama gue?" ledek vano yang masih berlari di samping icha.

"engga takut gue sama lo, tapi gue gak tertarik sama taruhan lo buang-buang waktu gue aja." balas icha. kini pandangannya menjadi semakin redup. sesaat icha berhenti berlari dan memegangi kepalanya. Vano yang masih berlari menghampirinya dan meledeknya,tapi ia sadar jika ada yg berbeda dari wajah cewek mungil ini. wajah icha menjadi lebih putih dari biasanya lebih tepatnya pucat pasi.

"heh, kenapa lo? muka lo putih pucet gitu udah kaya mayat hidup jalan-jalan. kalo gak kuat berenti aja sono." ledek Vano.
*nih anak kenapa sih? jadi takut gue, takut dia kenapa-kenapa..* sesaat ia berpikir seperti itu, *ah apaan sih, bodo amat deh..lagian dia siapa gue coba?* terjadi peperangan di batin vano. tapi yang jelas, ia sebenarnya khawatir.

"ah becanda lo, gue kuat kok..udah sono, jangan ngalangin gue..*PLAK" ujar icha sambil memukul pipi vano dengan sangat pelan.

"heee..kampret lo yaa..berani-beraninya mukul pipi gue ! awas lo gue kejar !" ujar vano, ia pun lari secepat kilat berusaha mengejar icha yang sedang tertawa geli karena ekspresi vano tadi.

"woo..payah lo ! masa kalah lari sama cewek kaya gue?" ledek icha, yang membuat vano makin gusar dan berusaha mempercepat larinya.

"hah ! rese lo..liat gua nih..cepet larinya..motor rossi aja kalah sama gue." Teriak vano yang kemudian tertawa kecil dan bertambah semangat mengejar icha.

Kini lari mengelilingi lapangan basket sebanyak 7 kali itu bukan menjadi hukuman lagi malah lebih mirip adegan di film bollywood yang kejar-kejaran. Vano berhasil melewati icha. sedangkan icha tertinggal di belakang.

"yeyeyeye..gue menang cha..traktir gue lo !" teriak vano tanpa melihat ke tempat icha berdiri jauh di belakangnya.

icha hanya terdiam di tempatnya, merasa dunia seakan berputar, dan matanya berkunang-kunang, pandangannya makin lama makin kabur..dan *BRUUUUK !
Icha tiba-tiba jatuh tergeletak di tengah lapangan. Vano yang melihat hal itu terentak kaget dan langsung lari menghampiri icha.

"cha..bangun cha, ah jangan bercanda lo.." ujar vano khawatir.

icha masih tergeletak lemas, badannya dingin..sedingin es. wajahnya pucat pasi, vano semakin panik. diangkatnya tubuh icha dan diletakannya kepangkuannya.

"cha..kalo lo mau gue peluk, bukan gini caranya..gak lucu lo, pas gue menang lo pura-pura sakit biar gak traktir gue." ujar vano berusaha menutupi kegelisahannya.

"saa..sak..sakiittt..." Icha merintih kesakitan, ia memegangi perutnya.

"apanya cha yang sakit? chaa..?" vano semakin gugup, ia berkeringat dingin..takut, khawatir, gelisah..

icha terdiam dan kondisinya semakin lemah, vano segera mengangkat tubuh mungil icha dan berlari menuju ruang UKS. sesampainya disana, ia terlihat sangat panik.

"suster...suster..." teriak vano.

"ada apa vano? kok kamu panik begitu? icha kenapa?" tanya suster itu tenang,

"ini sus, icha..icha..ichaaa.." ujar vano terbata-bata, ia panik sekali sehingga sulit berkata apa yg terjadi sebenarnya.

"icha pingsan? kamu tenang dulu vano, sekarang rebahkan icha di ranjang itu, biar saya yang menanganinya" ujar suster itu.

Vano merebahkan tubuh icha di ranjang UKS, suster itu memeriksa icha dan menggelengkan kepalanya. Vano yang melihatnya semakin panik.

"dia memiliki maag yang cukup parah. kamu lebih baik ke kantin membelikan makanan untuknya." perintah suster itu.

"iya suster.." jawab vano.

Tak lama kemudian, vano datang kembali dengan membawa sebungkus roti cokelat dan sebotol air mineral. vano duduk di samping tempat tidur dimana icha berada. ia memperhatikan wajah icha. *manis* pikirnya. ia ingin mengelus rambutnya, dan menggenggam tangannya. tapi ia ragu. seharian ia menunggu icha sadar, sampai bel istirahat berbunyi pun icha masih tak sadarkan diri. Berita bahwa icha pingsan sudah menyebar luas, Nathan bermaksud mengjenguk icha di UKS. Sementara Vano masih khawatir dengan keadaan icha, ia nekat mengelus rambut icha dengan lembut..bahkan sangat lembut. Tanpa disadari nathan melihatnya dari sisi jendela yang tidak tertutup oleh gorden. Hati Nathan panas, tidak suka melihat vano sedekat itu dengan icha, hatinya gelisah, ia ingin berada dekat dengan icha, tapi disana sudah ada vano. apa yang harus ia lakukan? apa yang terjadi pada hatinya? mengapa ia merasakan hal yang sedemikian rupa? perasaan apa ini?

Part 4 done.
kritik dan saran pliss..
mohon maaf kalau ngaret.. saya keteteran soalnya... >,<
ditunggu yah Part 5-nya.
ada request buat part 5? :)

0 komentar on "Seputih Salju, Setinggi Bintang (PART 4)"

Poskan Komentar

i've been in this world as long as..

Lilypie Kids Birthday tickers
 

My Memories Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting